seperti ladang tanpa air gersang panas yg di dapat seuah malam tanpa bintang hanya hampaan kosong dilangit dari sudut pandang mata yg lemah, hati yang diselimuti rasa harapan yang tak tau bagaimana bisa tercurahkan sementara keberadaan tahta yg memisahkan, hanya penyesalan yg di hasilkan
ntahlah sampai kapan aku membisu sedangkan semakin larut rasa dalam hati yg tak sanggup aku tutup akan semakin meluas di dalam dasar yg tak tersandar , semakin bergeraknya jarum jam semakin membesar rindu ku menebal sedangkan kau malah berbalik dari apa yg kurasakan menjauh dari perkiraan tentang semua kenyataan yg sekarang ini aku anggap hayalan untuk mengurangi penyesalan yg terukir terlalu tajam andai saja aku bisa mendapatkan kesempatan walau hanya sebilah jarum besarnya ku manfaatkan sebaik baiknya namun ntahlah kurasa engkau lebih menyukai seseorang yang menyakiti mu yg memiliki rasa cinta berpura-pura yang cukup tinggi walau bagaimanapun semakin besar sebuah rasaku ini akan semakin sakit kutanggung karna kau kaku bagai patung diam bukan mati seperti itu yg kurasakan sikap mu pada ku 'apakah engkan kau mengenal ku yg mendambakan setiap kurang lebih mu atau malah membenci aneh kau menyebut ku berlebihan andai saja kau rasakan apa yang sedang terjadi pada ku kali ini sempatkah kau berfikir dengan salah mu yang enggan ku sebut sombong namun seperti tak mengenal jika bertemu ironis seperti sampah yang terbuang dan untuk apa di ingat, semua rasa bercampur aneh dalam hati ingin berhenti melangkah bagai pecundang atau mati terkapar dalam penantian yg tak berujung manis
Tidak ada komentar
Posting Komentar